Himpunan Alumni IPB
Emmy Hafild: Bubarkan Greenpeace!


(Rabu, 28 Oktober 2015)

Lega sekali rasanya setelah saya memutuskan untuk berhenti menjadi supporter Greenpeace Indonesia karena saya kecewa dan marah dengan strategi constructive engagement Greenpeace dengan perusahaan besar (Sinar Mas, APRIL, APP dan WILMAR) yang terlibat dalam kebakaran lahan gambut.


Tragedi asap ini telah menyebabkan 50 juta rakyat Indonesia terpapar asap, lebih dari 540 ribu orang menderita ISPA dan kerugian ekonomi ratusan triliun rupiah. Keterlibatan perusahaan-perusahaan besar yang bekerjasama dengan Greenpeace sudah terang benderang, menjadi fakta publik, dan menjadi issu publik yang panas selama tiga bulan terakhir, tidak perlu lagi pembuktian khusus bagi Greenpeace untuk "repositioning" strategi tersebut. Publik opini sudah sangat jelas meminta agar perusahaan-perusahaan ini dihukum pidana, dicabut ijinnya dan diberi denda yang sangat besar. Greenpeace tidak perlu ragu untuk melakukan reposisi strategi ini. 


Terbakarnya lahan-lahan perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa strategi "constructive engagement" yang diterapkan Greenpeace sejak tahun 2013 gagal total.


Namun, komunikasi saya dengan SMT tidak menunjukkan sensitivitas Greenpeace terhadap penderitaan rakyat Indonesia. Fakta juga menunjukkan bahwa posisi Greenpeace ini dipakai oleh perusahaan-perusahaan tersebut untuk "greenwashing image" mereka dan melemahkan posisi CSO Indonesia dalam menghadapi kekuatan kapital yang sangat besar di balik tragedi asap ini.


Saya sudah berusaha dialog dengan representatif SMT GPSEA di Indonesia Longgena Ginting, Campaigner hutan GPI Bustar Maitar dan Ketua GPSEA Board, ibu Suzy Hutomo. Mereka tidak bisa mengambil keputusan karena memutuskan untuk lepas dari constructive engagement ini memerlukan keputusan SMT International. Alasan-alasan yang dikemukakan kepada saya tentang ini tidak dapat meyakinkan saya bahwa Greenpeaceberada pada posisi bersama rakyat Indonesia.


Kenyataan bahwa Greenpeace sudah mendapatkan support dari rakyat Indonesia, dimana dalam beberapa tahun telah mendapatkan income lebih dari 10 milyar per tahun, mengharuskan Greenpeace tidak ada pilihan lain kecuali bersama rakyat dan civil society Indonesia dalam menghadapi kekuatan kapital yang berusaha melepaskan diri dari tanggungjawab tragedi ini. Ibarat perang, "you are with the people or against the people". Tidak ada wilayah abu-abu, terang benderang hitam putih. Ini masalah hati nurani dan sebetulnya tidak memerlukan diskusi yang panjang untuk menentukan sikap.


Tragedi asap sudah 3 bulan, sudah cukup waktu bagi Greenpeace untuk secara pro-aktif meninjau ulang strateginya dan menentukan sikap dan itu gagal dilakukan oleh Greenpeace.


Dengan sikap seperti itu, sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada hal yang significant dilakukan Greenpeace dan sangat sulit untuk membuktikan bahwa Greenpeace ada gunanya bagi rakyat Indonesia kalau dalam tragedi lingkungan terbesar di Indonesia ini tidak mampu untuk repositioning untuk bersama rakyat Indonesia. Lebih baik Greenpeace Indonesia dibubarkan saja. Namun saya menghormati permintaan dari Board Perkumpulan Damai Hijau yang merupakan badan hukum Greenpeace di Indonesia untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk menulis surat kepada Board GPSEA dan berdialog satu kali lagi mengenai masalah ini. Apabila dalam waktu seminggu, tidak ada perubahan repositioning Greenpeace, saya akan menulis surat terbuka untuk meminta Greenpeace dibubarkan karena lebih memilih bersama perusahaan yang lahannya terbakar daripada rakyat Indonesia.


Saya juga menyerukan kepada seluruh supporter Greenpeace Indonesia untuk berhenti menjadi supporter dan meminta Greenpeace repositioning strategy constructive engagement dan bersama rakyat Indonesia dalam menghadapi tragedi. Lebih baik dana yang kita sumbangkan untuk Greenpeace secara setia setiap bulan kita sumbangkan untuk upaya mengatasi dan mencegah kebakaran lahan gambut.


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB