Himpunan Alumni IPB
Pendekatan Strategis dalam Mengembangkan Kompetensi Praktisi Manajemen SDM di Indonesia


(Kamis, 9 Februari 2017)

Selepas diterbitkannya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Hubungan Industrial, perlu kiranya kita memperhatikan langkah yang harus dilakukan untuk menjadikan standar kompetensi tersebut memberikan dampak yang nyata bagi peningkatan kapabilitas praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) di Indonesia.


Jika dilihat dari evolusi MSDM di dunia global, banyak model dan standar kompetensi yang ditelurkan dari hasil riset dan kajian para ahli.


Australian Human Resources Institute (AHRI) mencanangkan untuk memberlakukan secara resmi program sertifikasi profesi MSDM di awal 2017, setelah melakukan kajian bertahun-tahun akan pentingnya kompetensi praktisi MSDM di Australia.


Model kompetensi praktisi MSDM dari Chartered Institute of Personnel Development (CIPD) Inggris bahkan memunculkan 10 kompetensi teknis, 8 kompetensi sikap/ perilaku, dan semuanya diklasifikasikan atas 4 level kompetensi.


Sedangkan Dave Ulrich, seorang profesor dari Michigan University, menekankan bahwa praktisi MSDM dituntut untuk menjadi aktivis yang kredibel, baik dalam menangani persoalan menyangkut orang, maupun aspek bisnisnya.


Pada tahun 2012, Ulrich bahkan memperbaharui modelnya dengan menjadikan aktivis yang kredibel berada di pusat lingkaran individual, kemudian melebar di lingkaran organisasi dan pada akhirnya pada lingkaran konteks.


Di Indonesia, Perhimpunan MSDM Indonesia menunjukkan kepeduliannya dengan merintis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang MSDM yang akhirnya dituangkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 307 Tahun 2014.


Di dalamnya dijelaskan bahwa praktisi MSDM yang handal perlu menguasai 8 prasyarat generik atau lebih, yang dikenal sebagai Soft Competencies.


Selanjutnya, praktisi MSDM akan dianggap lulus, minimal level unggul dalam Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) dengan minimal skor 525.


Baru setelahnya, praktisi MSDM dituntut untuk menguasai 9 klaster kompetensi teknis.


Total ada 104 kompetensi yang dikemas berdasarkan Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI), okupasi, atau klaster.


Meneruskan kajian tentang strategi apa yang harus diterapkan dalam sistem pengembangan kompetensi praktisi MSDM di Indonesia, saya mewawancarai 15 pakar MSDM di Indonesia dengan menggunakan teknik Analytical Hierarchy Process (AHP).


Hasilnya, dibutuhkan kesadaran dan minat praktisi MSDM untuk mengembangkan kompetensinya, baru disusul dengan keberpihakan pimpinan organisasi, serta ketersediaan Standar Kompetensi.


Adapun aktor utama dalam pengembangan kompetensi praktisi MSDM meliputi asosiasi profesi MSDM, pihak pengguna praktisi MSDM, dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).


Diketahui pula bahwa tujuan terpenting dalam sistem pengembangan kompetensi praktisi MSDM adalah peningkatan kompetensi MSDM.


Temuan terakhir, sebagai rekomendasi alternatif mengenai strategi terpenting lainnya adalah dengan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan kompetensi praktisi MSDM.


Sekelumit kajian ini tentunya masih memerlukan penelitian lebih lanjut sehingga dapat menghasilkan model pengembangan kompetensi yang lengkap dan komprehensif bagi peningkatan kualitas dan kapasitas praktisi MSDM di Indonesia.


Semoga kapabilitas praktisi MSDM di Indonesia secara agregat bisa selalu meningkat guna mengimbangi tuntutan dan tantangan yang dihadapi oleh praktisi MSDM. (*)


 


*Oleh: Yunus Triyonggo, CAHRI, PhD (Penulis merangkum risetnya dalam buku ‘Standar Kompetensi Praktisi MSDM di Indonesia’ yang terbit pada tahun 2016.Lulusan S3 Manajemen Bisnis IPB ini sebelumnya menjabat sebagai Chief of Human Capital Development PT Sierad Produce, Tbk., pernah berkarier sebagai VP HR di PT Nestle, serta tercatat lama berkiprah sebagai HR Manager di PT Indofood Sukses Makmur selama 9 tahun dan HRBP di PT Unilever Indonesia, Tbk. selama 8 tahun)


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 10 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 10 Januari 2017 00:00 WIB