Himpunan Alumni IPB
Kejatuhan Harga dan Kualitas Gabah


(Jum'at, 3 Maret 2017)

Media massa semakin sering memberitakan tentang kejatuhan harga gabah yang jauh di bawah harga pembelian pemerintah.


Harian Kompas (18/2) memberitakan tentang cuaca buruk, hujan dan banjir yang melanda banyak wilayah sentra produksi padi, terutama di pantai utara Jawa. Kadar air gabah dan butir hampa atau hijau tinggi sehingga harga gabah kering panen (GKP) hanya sekitar Rp 2.800 per kilogram, jauh di bawah ketentuan harga pembelian pemerintah (HPP) yang Rp 3.700 per kilogram. Presiden Joko Widodo telah meminta para menteri dan kepala lembaga terkait untuk segera mengambil "tindakan" agar petani padi tidak dirugikan.


Mengapa kejatuhan harga kerap berlangsung pada musim panen raya dan mengapa penggilingan padi gagal menyerap kelebihan produksi gabah musiman, padahal kesulitan utama mereka adalah bahan baku gabah dan kapasitas telantar tinggi? Seharusnya mereka "haus" gabah.  Mengapa Bulog "lemah" dalam mengoreksi kegagalan pasar?


Kejatuhan harga gabah terjadi hampir setiap musim "normal" periode musim panen raya (Februari-Mei) yang mengambil pangsa produksi sekitar 50 persen dari total produksi gabah tahunan. Panen sering berlangsung bersamaan dengan  iklim basah, banyak hujan. Apalagi sekarang, iklimnya terlalu basah, curah hujan tinggi, sehingga kualitas gabah sangat jelek, pasar gabah lumpuh, penggilingan padi enggan menyerap kelebihan produksi.


Kualitas gabah


Baik buruknya kualitas gabah ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu kadar air dan kemurnian gabah. Kedua hal itu sangat memengaruhi  kualitas dan kuantitas beras, kalkulasi keuntungan atau kerugian para pelaku usaha. Kandungan air normal pada GKP berkisar 20-27 persen, butir hampa atau kotoran kurang dari 10 persen, dan butir hijau atau kapur kurang dari 10 persen.


GKP dengan kualitas tersebut pasti akan diperebutkan oleh penggilingan padi yang umumnya "haus" gabah. Kalaupun terjadi harga gabah jatuh, sifatnya hanya temporer dan tidak meluas arealnya.


Walaupun hujan normal pada musim panen raya, tetap saja selalu muncul kejatuhan harga di luar persoalan kualitas. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kasus kejatuhan harga di luar kualitas sekitar 20 persen setiap tahun, dominan berlangsung pada  Maret hingga April. Tahun ini berlangsung mulai Februari, curah hujan tinggi.


Petani sulit mencari pembeli gabah jika GKP berkadar air di atas 28 persen, apalagi kalau sudah terfermentasi atau terlalu lama "bersentuhan" dengan air, gabah berjamur, butir hampa di atas 10 persen, atau gabah sudah rusak. Pembelinya pasti "angkat tangan", kalaupun ada pembelinya pasti harganya anjlok, ditawar sangat rendah.


Dalam situasi tersebut, kurang tepat membandingkan gabah rusak dengan HPP yang sudah punya standar kualitas GKP (antara lain KA maksimal 25 persen, butir hampa maksimal 10 persen). Perbandingan harga seperti ini tidakapple to apple.


Misi baru Bulog?


Bulog awalnya dirancang untuk membeli gabah langsung dari koperasi unit desa (KUD) yang sebagian punya penggilingan padi. Tujuannya agar usaha rakyat, termasuk pedagang gabah lokal, dapat tumbuh bersama dengan semakin kuatnya KUD dan Bulog. Pada saat KUD "ambruk" awal tahun 2000-an, Bulog lebih banyak membeli beras  dari pihak penggilingan padi swasta, umumnya dari penggilingan padi kecil dan produsen beras kualitas medium, kualitas rendah.


Dirut Bulog (Kompas, 1/2) mengatakan, misi Bulog sekarang akan meningkatkan citra baik di pasar, menghasilkan beras yang mampu bersaing di pasar.   Dalam kaitan dengan itu, tahun ini pemerintah menambah penyertaan modal Rp 2 triliun untuk membangun gudang modern dengan kapasitas 45.000 ton dan penggilingan padi modern dengan kapasitas giling satu juta ton gabah kering giling (GKG). Kalau infrastruktur itu selesai, Bulog secara teoretis dapat menyerap GKP 1,3 juta ton sehingga kejatuhan harga gabah sebagian dapat teratasi.


Namun, rancang bangun infrastruktur tersebut belum jelas, apakah penggilingan padi modern Bulog akan membeli gabah langsung dari petani atau kelompok tani, bersaing dengan penggilingan padi yang ada?


Hal itu akan menambah tinggi persaingan dalam perebutan gabah sehingga harga gabah pasti akan terangkat naik, apalagi kalau terjadi pada musim panen gadu. Penggilingan padi kecil yang jumlahnya banyak itu akan kalah bersaing dalam perebutan gabah.  Kalau itu terjadi, keberadaan penggilingan padi modern Bulog akan menambah redupnya  usaha penggilingan padi kecil yang selama ini dibelanya.


Melihat kompleksnya masalah kualitas gabah dan kelemahan industri penggilingan padi, diperlukan solusi permanen jangka menengah atau panjang agar kejatuhan harga gabah bisa diminimalkan.


Dalam kaitan dengan itu,  sebaiknya pemerintah fokus dalam hal-hal seperti berikut. Pertama, penggilingan padi kecil yang jumlahnya dominan dan memiliki alat atau mesin yang tidak lengkap, berumur tua, termasuk pengelolanya. Pemerintah lebih baik merancang insentif agar mereka yang berminat dapat melengkapi alat atau mesin penggilingan padi kecil yang sekarang ada sehingga penggilingan padi kecil itu dapat berkontribusi nyata dalam usaha meningkatkan daya serap gabah, mengurangi kehilangan hasil pada saat pengeringan/penggilingan, serta  meningkatkan rendemen giling.


Kedua, modernisasi penggilingan padi Bulog dan infrastruktur lain sebaiknya dirancang agar dapat mengolah beras pecah kulit milik penggilingan padi kecil, di samping mengolah GKP milik petani atau kelompok tani. Hal ini akan menciptakan insentif bagi penggilingan padi kecil untuk berinvestasi pada pengering mekanis karena pemasaran beras pecah kulit telah terbuka dan terjamin.


Apabila hal yang sama ditempuh juga oleh penggilingan padi besar modern milik swasta, ini akan mempercepat upaya menekan kerugian nasional pada industri beras. Rasanya tidak ada jalan pintas untuk menyelamatkan kejatuhan harga gabah di musim panen raya.


*M HUSEIN SAWIT Senior Policy Analyst pada Center for Agriculture and People Support (CAPS) dan Salah Satu Pendiri House of Rice


 


**Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Maret 2017, di halaman 6 dengan judul "Kejatuhan Harga dan Kualitas Gabah".


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 22 September 2017 00:00 WIB
IPB
Sabtu, 16 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 8 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB