Himpunan Alumni IPB
Guru Besar Pertanian IPB Ini Jelaskan Pentingnya Tata Kelola Pangan


(Jum'at, 7 April 2017)

Bogor (AlumniIPB.org) – Guru Besar Pertanian IPB Prof Dwi Andreas mengungkapkan, pentingnya tata kelola pangan untuk menghadapi permasalahan impor komoditas di Indonesia.


Demikian disampaikan Prof Dwi Andreas saat dihubungi tim redaksi AlumniIPB.org, Jum’at (7/4).


Menurutnya, Dwi, tata kelola pangan berdasarkan akurasi data penting untuk menentukan kapan impor menjadi salah satu opsi solusi pemenuhan kebutuhan dalam negeri.


“Kalau memang produksi dalam negeri tidak memadai maka impor bisa menjadi opsi. Karena hingga kini kita belum bisa memadai kebutuhan konsumsi dalam negeri. Namun itu semua harus didasarkan pada akurasi data,” kata Dwi.


Akurasi data, ucap Dwi, menyangkut jumlah kebutuhan komoditas pangan dalam negeri dan siklus produksinya.


“Bahayanya jika beretorika Indonesia tidak melakukan impor pangan tanpa didasarkan data yang akurat hal tersebut bisa menimbulkan fluktuasi harga pangan yang tinggi, maka untuk batas-batas tertentu impor tidak bisa dihindari,” ungkap Dwi.


Prof Dwi menjelaskan, data impor Indonesia untuk komoditas beras pada tahun 2016 mencapai 1,283 juta ton, bawang merah mengalami penurunan drastis dari tahun 2015 sejumlah 19.500 ton dan di tahun 2016 mencapai 1.218 ton, sedangkan komoditas cabai Indonesia mengimpor 29.443 ton di tahun 2016.


“Pemerintah mesti berhati-hati ketika harus mengeluarkan izin impor. Kalau waktunya tidak tepat akan merugikan petani. Misalnya kasus yang terjadi baru-baru ini harga bawang merah di level petani jatuh salah satu penyebabnya ada bawang impor masuk ke indonesia,” Dwi menuturkan.


Permasalahan impor, ujar Dwi, tidak dalam kondisi waktu yang tepat. Kasus lain, misalnya gula yang melonjak hingga kisaran Rp 16-17ribu per kilogram akibat pemerintah bersikukuh produksi domestik memadai sehingga izin impor yang dikeluarkan sekitar 400 ribu ton.


“Akibatnya harga gula di pasaran  melonjak antara bulan Juni hingga Juli 2016. Barulah harga bisa diturunkan ke level Rp 14-15 ribu setelah pemerintah tergesa-gesa menerbitkan izin impor gula. Itu menunjukan pentingnya waktu impor berdasarkan data akurat,” kata Dwi. (ric/l)


Sumber Foto: Beritasatu.com


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 10 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 10 Januari 2017 00:00 WIB
Minggu, 8 Januari 2017 00:00 WIB