Himpunan Alumni IPB
Kisruh Perberasan, Begini Hasil Diskusi Akademisi AGH IPB


(Selasa, 1 Agustus 2017)

Bogor (alumniipb.org) - Polemik mengenai perberasan yang belum lama ini mencuat di Tanah Air turut mengundang perhatian akademisi dari Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH).


Sejumlah akademisi dari AGH pada Selasa (25/7) berkumpul guna membahas persoalan kisruh beras premium. Menurut Ketua Departemen AGH Fakultas Pertanian IPB DR Sugiyanta, diskusi bertujuan untuk memberikan usulan kepada pemerintah terkait polemik perberasan. 


"Hal kedua yang kami sampaikan merupakan klarifikasi nomenklatur perberasan,” ujar Sugiyanta.


Hadir dalam diskusi yang digelar yaitu Prof DR Sudarsono, DR Sugiyanta, DR Purwono, DR Iskandar Lubis, DR Winarso D Widodo, DR Asep Setiawan, DR Willy Bayuardi Suwarno, DR Deden D Matra, DR Ahmad Junaedi dan Hafith Furqono, SP, M.Si.


Melalui keterangan resmi tertulis yang diterima alumniipb org, Jumat (28/7), berikut kesimpulan hasil dari diskusi:


1. Klarifikasi tentang varietas padi yang saat ini banyak ditanam petani. Petani terbiasa menyebut semua padi tipe cere (padi indica yang gabahnya tidak berbulu Ryu) turunan dari varietas IR 64 (Ciherang, Mekongga dan lainnya) dengan padi IR. Padahal varietas IR 64 sudah minim ditanam petani.


2. Tidak ada istilah pengoplosan dalam perberasan, yang ada adalah meracik beras.


3. Acuan kualitas beras ada dalam ketentuan SNI, yang membagi beras secara umum ke dalam beras medium dan premium.


4. Racikan beras medium yang diproses sehingga memenuhi kriteria SNI  beras premium jug dikelompokkan sebagai beras premium. Beras racikan yang  didapat kemudian dikemas dan diberi label pandan wangi (merk dagang bukan varietas pandan wangi) itu sah saja.


5. Perbedaan beras medium dan beras premium. Jika pedagang mencampur atau meracik beras dan hasilnya sesuai dengan SNI Nomor 6128, maka racikan beras tersebut bisa disebut sebagai beras premium.


6. Dari data Kementerian Pertemuan, penjualan beras premium itu hanya 2,5 persen total perdagangan beras mencapai 40 juta ton per tahun. Omset negara terhadap perdagangan beras selama setahun adalah 40 juta ton dikali Rp 10 ribu (harga rata-rata penjualan beras), maka akan keluarlah angka Rp 400 trilyun. Jadi angka Rp 400 trilyun adalah total omset perdagangan beras nasional per tahun. Jika beras premium mengambil jatah 2,5 persen maka total omsetnya hanya Rp 10 trilyun per tahun.


7. Harga EceranTertinggi (HET) beras yang baru ditetapkan dalam Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) tahun 2017 bersifat tunggal untuk semua jenis beras.


8. Apakah dasar perhitungan HET yang ditetapkan pemerintah  sudah menguntungkan semua pelaku industri beras. Hitungan untuk penentuan HET adalah Biaya Pokok Produksi (BPP) per kilogram ditambah keuntungan petani menjadi HPP. HPP ditambah margin tata niaga menjadi HET untuk beras curah (beras medium). 


9. Biaya Pokok Produksi (BPP) seharusnya dihitung sebagai BPP yang wajar (real cost production) yang bisa ditentukan dalam bentuk rata-rata biaya dalam kondisi wajar dan menguntungkan.


10. Untuk mendapatkan beras premium, ada biaya pengolahan untuk mencapai SNI, sehingga HET beras premium harus beda dengan HET beras medium. (eng/cr)


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Kamis, 12 Oktober 2017 00:00 WIB
Senin, 25 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 22 September 2017 00:00 WIB
IPB
Sabtu, 16 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 8 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB