Himpunan Alumni IPB
Taryat Ali Nursidik, Dokter Hewan IPB “Pulang Kampung”

Inilah salah satu kacang yang tak lupa kulit, Taryat Ali Nursidik. Setelah sukses menyandang gelar dokter hewan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Taryat kembali berkarya bagi para peternak sapi di kampung halamannya, Subang, Jawa Barat.

 

Taryat memilih untuk mengabdikan ilmunya untuk orang-orang di kampung halamannya daripada berkarier sebagai dokter hewan. Pilihan itu ia ambil karena keprihatinannya terhadap kondisi ekonomi para peternak sapi. Maklumlah, harga susu sapi sangat rendah.

 

Untuk membantu kehidupan ekonomi para peternak sapi, Taryat menggagas pembentukan Gabungan Kelompok Peternak (Gapoknak) Sugih Mukti Mandiri. Saat berdiri, Gapoknak cuma memiliki 35 orang anggota. Namun setelah melihat keseriusan Taryat mengelola Gapoknak, kini ada lebih dari 110 peternak sapi yang bergabung di dalamnya.

 

Sebelum membentuk Gapoknak, Taryat sudah terlibat dalam organisasi peternak sapi. Begitu menamatkan kuliah di IPB, ia bergabung di Koperasi Petani Sapi Perah Bandung Utara (KPSBU). Terakhir, ia menjabat sebagai general manager pada koperasi tersebut. Akan tetapi, ada beberapa hal yang menggelisahkannya selama ia bekerja di koperasi itu.

 

Masalah utama, Taryat mendapati harga susu sapi perah tak dihargai dengan layak. Menurut hitungan para pakar dari berbagai universitas negeri, harga susu sapi terendah agar peternak hidup layak adalah Rp 3.315 per liter. Angka itu berlaku untuk tahun 2007. Asumsi yang digunakan dalam hitungan itu, setiap peternak memiliki tiga ekor sapi dengan produksi 13 liter susu per ekor tiap hari.

 

Fakta di lapangan, harga susu sapi hanya Rp 1.900–Rp 2.100 per liter. “Saya sudah mengusahakan dengan banyak pihak mengenai ketidakadilan ini. Tapi tidak ada perubahan yang signifikan,” ujar dia.

 

Lantas, Taryat memutuskan untuk berjuang secara mandiri. Ia membentuk Gapoknak Sugih Mukti Mandiri pada 2009. Kendati gencar melakukan sosialisasi mengenai visi dan misi Gapoknak, Taryat menemui banyak penolakan dari para peternak sapi. Kelompok itu pun harus berjalan hanya dengan 35 anggota saja.

Di mata Taryat, Gapoknak penting karena peternak harus memiliki daya tawar, baik saat menjual ataupun saat mencari permodalan.  Nah, posisi tawar yang lebih baik bisa diperoleh peternak apabila bergabung dengan Gapoknak. Mengapa? Dengan menjadi anggota Gapoknak, kapasitas produksi peternak lebih tinggi.

 

Penyebabnya, Gapoknak membuat kandang koloni yang merupakan gabungan dari beberapa peternak sapi. Dengan cara kolektif semacam ini, peternak juga lebih mudah mengelola dan mengawasi ternak.

 

Ini terbukti, setelah bergabung jadi satu kelompok, peternak sapi punya daya tawar untuk pinjam ke bank. Pertama kali Gapoknak meminjam dana dari BRI senilai Rp 1,8 miliar.

 

Kandang koloni Gaponak yang luasnya 200 meter persegi berada di kaki Gunung Tangkuban Perahu, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tempat itu merupakan kampung halaman Tar-yat. “Saya memang ingin memajukan tanah kelahiran saya,” ujar dia.

 

Gapoknak memang tak menuai hasil dengan instan. Bahkan Taryat dan para peternak masih mengalami masa sulit hingga 2012. Namun satu kegagalan tak membuat Taryat dan kawan-kawannya patah arang menjalankan kandang kolektif. Baru pada 2013, anggota Gapoknak merasakan manisnya hasil kerja keras mereka. Kapasitas produksi susu melonjak dari 20 liter per hari jadi 5.000 liter per hari. Pasalnya jumlah sapi di kandang koloni pun sudah mencapai 350 ekor.

 

Menaikkan nilai jual

Tahun lalu, Gapoknak juga bisa mengolah hasil produksi secara terintegrasi, mulai pemerahan susu, pembuatan produk. Bahkan, kotoran hewan bisa dijadikan kompos dan biogas. “Sekarang semua yang ada di kandang koloni bisa diolah,” kata dia.

 

Susu sapi diolah menjadi yoghurt dalam kemasan cup, kerupuk susu, dodol, hingga sabun. Harga jualnya beragam, mulai Rp 3.500 hingga Rp 10.000 per bungkus. Sekitar 60% dari total produksi 5.000 liter per hari diolah jadi yoghurt. Lalu 30% produksi diolah menjadi susu pasteurisasi. Sisanya, yakni 10%, untuk dodol, sabun, kerupuk.

 

Taryat tidak mematok harga jual. Ia menyerahkan penentuan harga jual ke agen. Tujuannya, agar agen semangat memasarkan produk olahan susu. Namun, Taryat menargetkan penjualan ke agen. Setiap minggu, agen harus bisa menjual 1.000 bungkus produk olahan susu sapi. Kini, Gapoknak memiliki 30 agen penjual, yang tersebar di Subang, Bogor, Karawang, dan Purwakarta.

 

Kendati sudah mencetak hasil nyata, tidak berarti Gapoknak kini bebas kendala. Taryat menyebut ketersediaan pakan  sapi yang kontinu merupakan tantangan Gapoknak saat ini. “Seharusnya, pemerintah mewajibkan tiap daerah atau kabupaten untuk menyediakan lahan minimal 5% bagi kebutuhan rumput ternak,” harap dia.

 

Hasil pengamatan Taryat, setiap ekor sapi membutuhkan 50 kg rumput per hari. Di kandang koloni milik Gapoknak, kebutuhan rumput mencapai 17,5 ton per hari. Itu setara dengan rumput yang menutup lahan seluas satu ha.

 

Solusi sementara, beberapa anggota Gapoknak yang memiliki lahan, merelakan tanahnya digunakan untuk budidaya rumput. Namun, jika ditotal, rumput yang dihasilkan tetap tidak memadai. Taryat juga menjalin kerjasama dengan petani. Lahan yang tidak produktif, seperti lahan yang berada di tebing yang curam digunakan untuk menanam rumput. Nah. rumput milik petani itu dibeli oleh Gapoknak.

 

Kendala lainnya adalah minimnya catatan genetika sapi di kalangan peternak. Sudah bukan rahasia bahwa peternak tradisional jarang memiliki catatan genetika yang teratur tentang sapinya. Akibatnya, kemampuan produksi sapi terus merosot. Kawin antar saudara juga membawa kembali penyakit-penyakit turunan.

 

Taryat menambahkan, usaha yang dibangun secara terintegrasi seperti yang ia lakukan membutuhkan kekuatan dan ketangguhan mental. Ia optimistis ada orang-orang yang akan meniru jejaknya. “Saya yang ekonominya pas-pasan bisa bantu orang. Apalagi mereka yang nilai usahanya miliaran. Masak tidak bisa bikin yang seperti ini,” ungkap dia.   

 

Sekolah dan biogas gratis

Tidak hanya memberdayakan para peternak sapi, Taryat Ali Nursidik pun mendirikan sekolah gratis. Sekolah ini ditujukan untuk siswa taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah pertama. Taryat mengatakan, TK yang didirikan Gapoknak Sugih Mukti Mandiri sudah berdiri sejak 2010. Sementara, SD dan SMP pada 2013.

 

Siswanya tidak terbatas untuk anak-anak dari peternak sapi, anggota Gapoknak, tetapi terbuka untuk umum.  “Untuk mendaftar di sekolah tersebut syaratnya mudah, tinggal datang ke sekolah,” tutur Taryat.

 

Pria berusia  49 tahun ini juga berambisi kampungnya bisa mandiri dalam energi. Dus, ia mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan hasilnya disalurkan pada warga. “Tahun 2014 sudah ada 15 rumah yang mendapatkan aliran energi biogas secara gratis. Tahun depan kami menargetkan ada 150 rumah yang bisa merasakan listrik,” cetus dia.

 

Pasar bebas Asia Tenggara yang mulai berlangsung akhir tahun depan menjadi tantangan bagi Taryat dan Gapoknak Sugih Mukti Mandiri. Mereka menyadari, di masa itu kompetitor produk olahan susu tidak hanya dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.  Agar produknya tidak keok di masa pasar bebas, Taryat mengandalkan strategi keunikan produk, dan tentu, konsistensi dalam menjaga kualitas.

 

Di masa pasar bebas Gapoknak berniat mempertahankan ragam produknya mulai susu murni hingga aneka produk olahan. Taryat juga berencana meningkatkan skala usaha Gapoknak dari usaha kecil menengah menjadi pabrikan dan mendaftarkan produk, yang memiliki label SNI.

 

Namun agar daya saing Gapoknak meningkat, Taryat berharap pemerintah membantu dalam ketersediaan lahan untuk ditanami rumput dan penyediaan teknologi pengemasan.

 Sumber : Kontan.co.id

 


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB