Himpunan Alumni IPB
Mustafa Abubakar: IPB Sejati, Menyelesaikan Pendidikan Sambil Bekerja

Tumbuh sebagai anak yatim yang berasal dari pelosok pedesaan tidak menjadi penghalang bagi seorang untuk meraih kesuksesan. Semua orang memiliki kesempatan untuk bisa menjadi apa yang diinginkan. Itulah yang telah dibuktikan oleh Mustafa Abubakar, anak Pidie, Nanggroe Aceh Darusalam yang diceritakan kepada Alumniipb.org,  Selasa, (09/05).

 

Komisaris Utama Bank BRI ini lahir dan tumbuh seperti anak-anak kebanyakan. sampai suatu ketika kakak iparnya, Sahabudin yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Pidie memberikan informasi tentang peluang mengikuti pendidikan perikanan di Bogor.

 

“Mus, abang lihat kamu suka perikanan!  Ini ada surat untuk masuk di sekolah perikanan,” kata kakak iparnya.

Tanpa bepikir lama, Mustafa yang memang hobi menangkap ikan di sungai merespon informasi yang diberikan kakak iparnya itu.

“Saya mulai masuk perikanan bukan dari IPB melainkan sejak tamat SMP. Di Aceh tahun 1966 dilakukan seleksi calon siswa ikatan dinas untuk dikirim ke Bogor namanya sekolah perikanan darat menengah atas selama empat tahun. Semuanya di asramakan,” tuturnya.

Di setiap provinsi ada wakil. Waktu itu provinsi Aceh mengirim 3 wakil. 3 wakil yang tingkat SLA dan 3 wakil juga yang tingkat akademi atau perguruan tinggi. Untuk yang diAceh ada dari Aceh Tengah, 1 dari Aceh Utara, dan 1 lagi dari Aceh Pidie yaitu Mustafa.

 

Seleksi yang dilakukan dilihat berdasarkan nilai kelulusan waktu SMP. Mustafa yang memang dikenal memiliki otak encer itu memiliki nilai yang  bagus waktu SMP sehingga ia terpilih mendapatkan kesempatan belajar dalam status ikatan dinas. Isi kontrak yang ia tandatangani itu bahwa selesai pendidikan, ia harus pulang ke Aceh untuk mengabdi di daerah selama dua kali masa pendidikan. Mengingat lama belajar selama empat tahun maka ia harus ngabdi selama delapan tahun.

Isi kontrak yang ditandatangi tersebut tidak masalah bagi Mustafa. Dengan ridha dan do’a restu dari orang tuanya maka, tahun 1966 ia berangkat ke Bogor besama tiga orang temannya yang lulus itu. 

“Zaman itu, bagi kami luar biasa. Mendapatkan kesempatan ikatan dinas aja sudah buat silau orang lain. Saya berangkat dengan menenteng koper besi zaman dulu. Dari Aceh berangkat naik kereta api sehari semalam ke medan. Di Medan, diPelabuhan Belawan baru naik kapal laut selama tiga hari. Kapal yang kami gunakan bernama kapal Queen Mary,” Kenangnya.

 

Empat tahun kemudian tepatnya pada tahun 1970, Mustafa  menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Perikanan Darat Menengah Atas (SPDMA) dengan predikat pertama. Ia pun pulang sesuai dengan kontrak yang sudah ia tandatangani. 

“Pulanglah saya ke daerah meskipun saya baru tamat Sekolah Lanjutan Atas. Meski demikian, saya diangkat menjadi pegawai golongan II A.  Baru bekerja 6 bulan, saya sudah menjadi asisten mengajar di SPDMA (sekolah pertanian) di Banda Aceh. Kebetulan kepala dinas saya guru di situ. Saya tidak tau apa yang menjadi pertimbangannya sehingga saya diangkat menjadi dosen di sana. Kalau beliau berhalangan hadir untuk mengajar, saya diminta untuk menggantikannya mengajar,” tuturnya.

Melihat nilai yang diperoleh Mustafa selama menempuh pendidikan di SPDMA sangat bagus, Kepala Dinasnya waktu itu bernama Husni Ali merasa bersimpati  pada Mustafa.

 

“Mus kalau melihat kamu dari segi kebutuhan daerah, kami sangat butuh tenaga banyak. Tetapi kalau saya melihat dari prestasi akademikmu saya dosa kalau tidak menyekolahkanmu lagi,” kata Husni Ali.

 

Kembali tugas belajar ke IPB

 

Pada tahun 1973, Ia kembali dikirim dengan status sebagai mahasiswa tugas belajar pada salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB).

 

“Gaji dapat, pangkat dapat, belajar jalan. Kalau seandainya di tengah jalan saya putus, saya kembali lagi ke daerah maka akan menjadi pegawai negeri lagi,” selorohnya.

Begitu tiba di IPB, ia terkejut menerima informasi bahwa untuk masuk di IPB harus melewati proses seleksi.

 

“Waktu masuk IPB, taunya ada testing yang bagi saya cobaan paling berat. Kenapa? Pertama saya berasal dari sekolah kejuruan, yang namanya vektor, kalukulus dan segala macamnya. 

 

Yang paling saya ingat itu vektor karena baru pertama kali saya menemukannya sehingga sangat asing bagi saya mengingat sekolah kejuruan, mata pelajarannya selektif. Yang perlu-perlu saja untuk terapan. Saya dididik bukan untuk menyambung sekolah melainkan untuk menjadi PPL atau penyuluh lapangan maksimal menjadi kepala dinas kabupaten. Karena kepala dinas saya bersimpati kepada saya sehingga diizinkan untuk melanjutkan sekolah lagi. Kedua karena sudah tiga tahun tidak pegang buku. Tiba-tiba diminta ikut test bersama anak-anak yang baru lulus SMA,” kenangnya

 

Saat pengumuman, ada ucapan seorang dosen yang mengingatkan bahwa tidak ada jaminan lulus seleksi secara mudah walau mahasiswa itu dalam tugas belajar sekalipun.

 

“Kamu jangan sombong mentang-mentang diutus untuk tugas belajar. Kamu hampir tidak lulus,” demikian dikatakan oleh Khairul Muluk salah seorang dosen pada saat pengumuman hasil seleksi.

 

“Saya langsung mengucapkan alhamdulillah, untung dibilang saya hampir tidak lulus idak dibilang hampir lulus. Padahal saya sudah bawa pakaian dan segala macam dari Aceh ke Bogor. Pada saat itu, saya berfikir kenapa saya nekat juga berangkat ke Bogor. Kalau seandainya saya tidak lulus gimana jadinya, udah jauh-jauh dari Aceh,” jelas Mustafa.

 

Mengingat basic yang dimiliki adalah perikanan, Ia pun kemudian mengambil jurusan sesuai dengan basic yang dimiliki.

 

“Waktu itu, perikanan menjadi fakultas yang paling tidak diminati. Waktu itu, saya satu angkatan jumlahnya hanya 13 orang. Begitu saya masuk, hati saya mendua. Mewarisi darah aktivis ingin memberontak keadaan pada saat itu supaya perikanan naik ke papan atas. Kedua, sebagai mahasiswa tugas belajar yang sudah tiga tahun meninggalkan buku, saya rasanya harus fokus kepada belajar,” tuturnya.

 

Apa yang ia lakukan? Puasa baca radio, puasa baca koran, membatasi pergaulan. Fokus kepada pelajaran. Saya mencari teman kos yang berasal dari mahasiswa yang baru lulusan SMA dari Surabaya dan Jakarta supaya saya bisa belajar menutup kekurangan tiga tahun tidak memegang buku.

 

Alhamdulillah semester satu lewat, semester dua lewat meskipun nilainya pas-pasan. Begitu semester tiga dan seterusnya, alhamdulillah lulus dengan sangat memuaskan. Karena nilai sangat memuaskan, terpilih lagi sebagai Ketua Dewan Mahasiswa karena apa? ketika saya masih tingkat satu, kimia, fisika, dan segala macam bagi saya paling berat,” kenangnya.

 

Lebih lanjut ia menceritakan bahwa begitu masuk ke fakultas, ia sangat senang. Sebagian bahan pelajaran yang akan dipelajari sudah saya pelajari waktu di SPDMA tinggal melakukan pendalaman saja. Barulah ia mulai berkecimpung di organisasi.

 

“Saya terpilih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa, jadi aktivis HMI dan menjadi mahasiswa teladan nasional, sampai saya juga bisa terpilih sebagai ketua masyarakat Aceh bogor. Wakil ketuanya, mayor angkatan udara, kepala inspektur pajak di Bogor, bendaharanya, kepala BNI cabang Bogor. Alhamdulillah karena di support penuh sama kawan-kawan sehingga meskipun usia saya masih sangat muda dan masih mahasiswa namun saya berhasil memimpin organisasi tersebut. Prestasi yang saya raih ini berdampak kepada minat mahasiswa masuk ke Fakultas Perikanan semakin meningkat” kata mantan menteri BUMN ini.

 

Meski berkecimpung di organisasi, namun prestasi akademinya tidak pernah menurun. Kepada Alumniipb.org, Ia membocorkan rahasia kesuksesannya menyeimbangkan antara akademik dengan organisasi.

 

“Selama belajar, saya tidak pernah duduk di belakang supaya lebih fokus mendengarkan penjelasan dari guru atau dosen. Sering berdiskusi dengan teman-teman.Saya juga terbiasa tidur cepat yakni pada pukul 08.00 jam 04.00 pagi saya bangun belajar. 

 

Disamping itu, komunikasi dengan dosen juga harus bagus sehingga ketika ada kegiatan di luar kampus dan waktu itu ada ujian maka saya minta izin untuk ujian lebih dahulu atau kalau bisa ujian belakangan,” tuturnya.

 

Di saat menjadi Ketua Senat Mahasiswa, ia menjadi kenal baik dengan Andi Hakim Nasution. Begitu lulus S1, ditawarkan untuk langsung melanjutkan pendidikan ke program S2. Ia sempat menolak tawaran tersebut. Hal ini mengingat statusnya sebagai mahasiswa tugas belajar yang harus pulang ke daerah setelah lulus menempuh pendidikan.

 

“Gubernur Aceh, Pak Majid Ibrahim itu kawan saya nanti saya telepon beliau,” kata Rektor meyakinkan dan akhirnya mendapatkan izin untuk melanjutkan pendidikan S2.

 

Tawaran kerja di Bank Dunia

Sesudah masuk pendidikan S2 sampai belajar tiga semester, tibalah saat penyusunan thesis. Ketika hendak mulai menyusun thesis itulah Ia tiba-tiba didatangi oleh salah seorang tokoh Aceh yang memilki perusahaan konsultan pusat pengembangan agribisnis. Dia mencari kader untuk projek Bank Dunia. Terpilihlah waktu itu namanya Narmadi. Begitu Narmadi  masuk BRI dia lihat-lihat job description dan segala macamnya dia mengatakan,

 

“Waduh ini bukan jobdesk saya. Sekalipun saya orang perikanan tapi lebih banyak kepada tangkapnya, perikanan laut,” kata Narmadi.

 

Setelah itu dicarilah calon pengganti Narmadi. Ada tiga nama calon yang diusulkan yaitu satu dekan fakultas perikanan IPB, satunya lagi dosen di Brawijaya, dan Mustafa yang masih berstatus sebagai mahasiswa S2.

 

Ia pun bingung karena posisinya sebagai mahasiswa yang belum lulus masternya sedangkan syaratnya harus master dan punya 5 tahun pengalaman. Karena Pak Amin Aziz, orang yang meminta beliau ikut tes tetap ngotot, iapun kemudian menyanggupinya.

 

“Okelah pak saya ikut test tapi tujuan saya bukan untuk lulus, saya ingin cari pengalaman. Bagaimana orang asing mewawancari untuk menjadi konsultan di projeknya World Bank di BRI. Dekan saya tidak tahu kalau dia disandingkan dengan mahasiswanya. Kalau tau mungkin dia akan marah sekali,” selorohnya.

 

Begitu pengumuman, Pak Amin Aziz datang lagi kepada saya. “Mus, kamu yang lulus!”

 

“Yang bener pak?” timpal Mustafa. “Iya bener” tegas Pak Amin Aziz.

 

Setelah itu, ia datang ke kantor BRI untuk bertanya langsung kepada pihak BRI nya. Hak ini ia lakukan untuk semakin meyakinkan dirinya.

 

“Jangan terlalu mempersoalkan itu. belajar saja sambil jalan nanti. Kami mensupport pak Mus. Sesungguhnya Pak Mus itu adalah arahan tuhan lewat tangan kami Pak Mus lulus di sini, terima saja,” Jawab salah seorang kepala bagian di Bank BRI yang ditanya Mustafa.

 

“Merinding saya mendengarnya,” kenangnya.

 

Waktu itu, ada 10 orang konsultan. Tujuh orang asing dari tiga orang dalam Indonesia. Team leadernya ada orang Australia,Newzeland, Inggris dan lain-lain.

 

Begitu dinyatakan lulus oleh World Bank, Ia dibawa pulang oleh Prof. Amin Aziz untuk menghadap ke Gubernur Aceh.

 

“Pak gubernur, ini Mustafa lulus proyek world bank. Apakah diizinkan tidak pulang padahal udah mau selesai masternya,” tanya Prof. Amin Aziz kepada Gubernur Aceh.

 

“Dari segi kebutuhan Aceh, kita sangat butuh. Tetapi dari segi peluang masuk World Bank, tidak mudah untuk masuk di sana. Udah saya izinkan, Mustafa boleh kerja di World Bank,” jawab sang gubernur.

 

Selama bekerja di World Bank, program S2 nya pun kadaluwarsa. Ia kemudian datang menghadap ke dosen pembimbing nya bernama Pak Syarafudin Baharsyah, Mantan  Menteri Pertanian.

 

“Pak, saya mengikuti projek World Bank, pegawai negeri, dan mahasiswa tugas belajar,” katanya mengadu kepada dosen pembimbingnya.

 

Impossible Mus kalau kamu lakukan tiga-tiganya. Harus ada yang dikorbankan. Hentikan program mastermu,” Jawab Pak Syarafudin tegas.

 

Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari dosen pembimbing thesisnya.

“Kok begitu pak?” tanya Mustafa minta penjelasan.

 

“Itu peluang World Bank mahal sekali untuk bisa masuk ke sana. Belum tentu dua tiga tahun lagi kamu dapat. Pegawai negeri juga sayang,” jawab sang dosen.

 

Ia pun kemudian mengikuti saran dari dosen pembimbingnya itu. Begitu projek World Bank di BRI selesai dan hendak mau pulang ke Aceh, Ia kembali ditawari menjadi konsultan Bank Indonesia. Tawaran inipun diambil oleh Mustafa sampai tahun 1989. 

 

Setelah projek di Bank Indonesia selesai, ia merasa jenuh menjadi tenaga kerja sebagai konsultan. Dengan berbekal pengalaman selama 10 tahun sebagai konsultan, Iapun mencoba membuka usaha konsultan yang diberi nama Aquatik Consultan.

 

Selama menjalani usahanya itu, ia terpilih menjadi Ketua Masyarakat Perikanan Nusantara dan terlibat untuk mendirikan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

“Karena saya ikut merintis, Pak Sarwono yang pada waktu itu menjadi menteri pertama zaman Gusdur, beliaumeminta saya menjadi irjen tahun 1999. Pada saat inilah saya mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan program master saya pada program studi pengelolaan sumberdaya perairan,” katanya

 

Ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan nilai yang sangat memuaskan.

 

 

“Begitu saya selesai S2, alhamdulillah nilai saya bagus dua profesor membujuk saya untuk melanjutkan ke program doktor. Istri saya waktu itu tidak setuju karena mengkhawtirkan saya nanti akan menjadi stress. Namun, profesor saya itu berhasil membujuk istri saya. Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan program doktor saya selama 21 bulan tahun 2004 pada program studi teknologi kelautan. Inilah kenapa saya katakan bahwa saya IPB sejati, Menyelesaikan Pendidikan Sambil Bekerja,” tegasnya. (Zul)


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB