Himpunan Alumni IPB
Prof Asep Saepudin: Aktivis Kampus, Penggagas Strategic Planing IPB 2020

Masa kecil, Jadi Anak yang Takut Masuk Sekolah

Asep saepudin, putra dari bapak H Udju Solihin dan Ibu Hj St Maemunah. Ia lahir 16 maret 1957. Waktu usia lima tahun, di saat teman-teman seusianya sudah masuk sekolah, Ia justru tidak mau masuk sekolah. Alasannya, sedikit malas dan takut keluar rumah. Suatu waktu, kakak-kakaknya memaksanya untuk masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Dengan sangat terpaksa, ia menuruti kakaknya. Akantetapi, Ia menangis begitu sudah berada di depan kelas. Hal ini membuat kakaknya langsung membawanya pulang.

Begitu usianya menginjak tujuh tahun, Ia kembali dipakasa oleh kakaknya untuk masuk sekolah dasar. Pada saat itu, Ia masih tetap ngotot tidak ingin sekolah. Karena terus menerus dipaksa, akhirnya Ia menyerah dan terpaksa masuk sekolah dengan syarat, setiap hari Ia harus diantar oleh neneknya pergi ke sekolah. Syarat itupun disetujui oleh kakaknya. Setelah tiba di sekolah, Ia minta izin kepada gurunya supaya sang nenek bisa masuk ke dalam kelas. Jika tidak diizinkan maka Ia akan pulang. Sang guru pun menerima permintaan Asep tersebut.

Selama jam pelajaran di kelas, sang nenek mengawasinya  sambil ikut mendengarkan penjelasan dari guru. Sang nenek ikut belajar membaca, menulis, dan berhitung. Berkat sang nenek yang selalu ikut belajar membuat neneknya bisa membaca huruf latin dan berhitung sederhan. Asep ditemani sama sang nenek sampai triwulan. Karena kesibukan sang nenek di rumah bertambah sehingga membuatnya tidak bisa lagi menemani cucunya ke sekolah. Akibatnya, Asep tidak mau lagi pergi ke sekolah.

Pada tahun 1965, saat usianya menginjak 8 tahun, Ia mulai bosan dirumah. Iapun kemudian meminta kakaknya untuk dimasukkan kembali ke sekolah. Sejak saat itu, Ia mencoba menikmati masa sekolah. Meski demikian, Ia sedikit tertekan lantaran harus mengerjakan tugas rumah (PR), menggunting kuku, dan sikat gigi. Hingga akhirnya, pada tahun 1969 saat Ia duduk dibangku kelas 5 SD pihak sekolah mengizinkannya ikut ujian bersama dengan siswa kelas enam. Sebab,nilai-nilai diraportnya selalu bagus dan selalu menempati peringkat pertama.

Alhamdulillah, saya lulus ujian SD, sehingga saya dapat menggantikan kehilangan waktu satu tahun karena telat masuk SD,”kenangnya.

Semenjak lulus SD, ketakutannya masuk sekolah hilang. Iapun jadi seorang yang sangat semangat mencari SMP terbaik dan dekat dengan rumahnya untuk melanjutkan pendidikan. Ia kemudian mendapatkan SMP Negeri 2 Garut. Untuk dapat masuk di SMP negeri 2 garut tersebut, calon siswanya harus memiliki nilai rata-rata 8 pada hasil ujian SD. Asep Kemudian diterima di SMP 2 yang dikenal terbaik di Garut. Pendidikan di SMP dilalui dengan mulus. Namun, ada kejadian yang tidak bisa Ia lupakan yaitu saat mendapatkan tamparan keras dari  guru keseniannya.

“Pada waktu itu, saya membantu teman yang lupa membawa catatan sehingga teman saya itu meminjam catatan saya. Pak guru justru menduga saya tidak membawa buku dan menganggap saya meremehkan pelajaran. Tanpa banyak pertanyaan, saya langsung mendapatkan tamparan keras sampai saya terjatuh dari kursi. Teman-teman saya terdiam dan pak guru terus mengomel. Saya tidak mau melakukan pembelaan karena akan berefek kepada teman saya itu. pertemanan lebih penting daripada risiko dimarahain guru. Mungkin karena itu, kemampuan kesenian saya tidak berkembang dengan baik,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMP Negeri Garut, Ia kemudian masuk di SMAN 1 Garut yang juga terkenal unggul pada tahun 1973. Sejak masuk SMA, Ia mulai aktif mengikuti kegiatan intrasekolah yang pada waktu itu dikenal dengan nama Warga Pelajar (WP). Pada waktu kelas 2, Ia mengikuti lomba menulis esai tentang lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB. Esai yang Ia buat terpilih sebagai juara ketiga.

“Sejak itulah saya mulai ada kepercayaan mampu menulis. Walaupun tidak dijadikan kebiasaan, sampai saat inipun menulis ini saya lakukan bilamana perlu saja, kurang diprogramkan,”tuturnya.

Masuk IPB, Lantaran Ingin Diajar Sang Idola

Sejak tahun 1950, untuk masuk ke program studi atau universitas yang berbasis pertanian itu tidak mudah. Pada 28 april tahun 1952, Soekarno pidato dengan nada menagajak untuk memperhatikan pertanian karena, pertanian adalah masalah hidup atau mati sebuah negara. Pada saat yang sama tidak banyak yang berminat ke perguruan tinggi pertanian. Di saat kondisi seperti itu, Asep Saepudin sendiri antusias masuk ke IPB. Hal ini lantaran ingin diajar langsung sama sang idola, Prof Andi Hakim Nasution. Awal mula Ia mengidolakan Prof Andi ketika SMA, Ia sering membaca tulisan-tulisan dari Prof Andi Hakim Nasution yang selalu diterbitkan di koran-koran.

“Dulu Pak Andi Hakim Nasution sering sekali menulis di berbagai media masa dan saya sering membaca tulisan beliau Itu. saya kagum sekali dengan Pak Andi sehingga saya sangat ingin sekali menjadi murid beliau. Waktu saya kelas 3 sma, saya diajak sama kakak saya yang kebetulan menjadi dosen di Fakultas Teknologi Pangan IPB untuk bertemu dengan Pak Andi Hakim. Saya sangat senang sekali karena akan bertemu dengan orang yang sangat saya idolakan. Saat bertemu itu, Pak Andi bertanya,

Kamu kelas berapa?

Kelas 3 pak. Jawab saya dengan sedikit malu-malu.

Kalau begitu kamu masuk IPB saja.

Kan saya harus testing pak?

Tidak perlu testing.

Ada program itu?

Iya ada. Kata Pak Andi tegas. Padahal, program itu baru difikirkan pada saat itu.

Waktu masuk IPB, Asep Saepudin memilih Jurusan Statistik. Di samping basic nya cukup kuat di bidang eksak, motivasi kuatnya memilih Jurusan Statistik tidak lain supaya bisa diajar oleh Prof Andi Hakim Nasution.

“Saya adalah angkatan pertama di IPB yang dipanggil tanpa testing oleh Pak Andi Hakim Nasution. Gagasan tanpa testing itu dipikirkan oleh Pak Andi pada tahun 1974 dan tahun 1975 mulai action dengan mengirimkan surat ke SMA-SMA yang ada alumninya di IPB. Pada waktu itu, kami masuk sebanyak 530 orang yang melalui tanpa testing dan sisanya 160 orang yang dengan testing sehingga totalnya sekitar 690 orang. Ini adalah angkatan pertama yang paling banyak karena sebelumnya selalu di bawah 200 orang,”paparnya.

Aktivis Kampus, Penggagas Naskah Dramaga

Sekitar tahun 1977, waktu tingkat 2, Asep Saepudin menjabat sebagai Sekretaris Dewan Mahasiswa IPB. Sekitar Bulan Oktober, Ketua Dewan Mahasiswa IPB (Bang Farid) mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit. Kondisi ini kemudian menyebabkan kekosongan kepemimpinan di Dewan Mahasiswa (DM) IPB.

“Mengingat waktu itu angkatan 11 dan 12 waktu itu sedang KKN dan PL sedangkan yang berada di kampus hanya angkatan 13 dan 14 atau  angkatan saya dan angkatan di bawah saya sehingga tidak ada pilihan lain, saya diminta untuk menggantikan posisi Bang Farid,” tuturnya.

Pada saat menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Ketua DM-IPB, suhu politik di Indonesia cukup panas.  Situasi kemahasiswan terutama di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya sudah mulai memanas. Desakan turun ke jalan datang dari berbagai kampus, walaupun beberapa kampus besar seperti UI dan IPB tidak terlalu setuju. Karena keinginan tersebut sulit dibendung, akhirnya dilakukan aksi damai menuju DPR.

“Setelah itu, saya dan Lukman Hakim (Ketua Dewan Mahasiswa UI, saat ini sebagai Ketua LIPI) menggagas sebuah perjuangan mahasiswa yang lebih konseptual, tidak sekedar aksi masa turun jalan,”

Awal Desember 1977 para pengurus harian Dewan Mahasiswa UI dan IPB berkumpul di kampus IPB Darmaga, sekarang menjadi Wisma Tamu IPB. Di tempat inilah dirampungkan Kesepakatan Darmaga yang berisi pembenahan pemerintahan, perbaikan sistem pendidikan, penguatan hukum dan keadilan untuk masyarakat, selain pembangunan ekonomi. Bahan kesepakatan Darmaga itu disiapkan untuk disampaikan kepada Presiden Soeharto, tanpa harus melakukan aksi demo.

“Waktu itu saya mengatakan, kita harus punya konsep. Bukan turun ke jalan. Kalau turun ke jalan, every body can do it but to make a concept not all people can make it. Jadi harus disiapkan. Kalau sudah disiapkan kemudian ketemu presiden kan boleh-boleh saja sehigga lebih siap kita sampaikan gagasannya. Dengan demikian, tidak sekedar teriak-teriak di jalan,” katanya.

Surat permohonan menghadap Presiden Soeharto ditandatangani oleh lima pimpinan Dewan Mahasiswa (DM) yaitu, Lukman Hakim dari DM UI, Heri Ahmadi dari DM ITB, Harun al Rasyid dari DM ITS, Lukman Harun dari DM USU, dan saya sendiri (Asep Saepudin) dari DM IPB. Pertemuan dengan Presiden Soeharto dijadwalkan pukul 10 (24 Desember 1977). Akan tetapi, tiba-tiba staf kepresidenan memberi tahu bahwa Presiden mendadak ada tamu negara sehingga pertemuan Presiden dengan mahasiswa dibatalkan.

Desember 1977, pemerintah mulai khawatir aksi yang dilakukan mahasiswa. Pangkopkamtib Laksamana Soedomo mulai melancarkan aksi penangkapan para pimpinan Dewan Mahasiswa.

“Saya sendiri mulai dicari sejak pertemuan yang batal dengan Presiden Soeharto. Namun, Pangkopkamtib sepertinya kesulitan mencari saya karena sampai awal Januari saya berada di Garut. Pangkopkamtib pun kemudian mengancam Rektor IPB. Apabila saya tidak masuk bui maka, IPB akan diambil alih oleh Dewan Jendral atas perintah Presiden Soeharto. Waktu itu bapak saya bilang, itu sih risiko. Kalau kamu memang sudah berjuang dan risikonya kamu harus masuk tahanan ya silahkan. Akhirnya, saya masuk penjara dan ditempatkan di Kodam Siliwangi ,” tuturnya.

Begitu keluar tahanan, Ia langsung mengikuti ujian dikampus. Hasilnya, Ia mendapatkan nilai yang sempat membuat Prof Andi Hakim kecewa.

“saya mendapatkan nilai dua monyet sedang berlari alias 33. Begitu diketahui oleh Pak Andi Hakim Nasution, beliau bertanya kepada saya,

Kenapa nilaimu tidak bagus? Apakah saya tidak bisa menjelaskan Rancangan Percobaan (Rancob)?

Bapak sih menerangkan bagus, saya juga senang  dan mengerti. Jawab Asep

Tapi kenapa ini 33? Tanya Pak Andi  lagi.

Saya kan masuk kelas seminggu yang lalu!

Kenapa?

Saya kan di dalam tahanan!

Oh iya ya, kamu tuh keluar dari tahanan ya. Kalau begitu, 33 bagus sekali tuh. Timpal Pak Andi.

Setelah itu, Pak Andi Hakim bertanya tentang kondisi selama di dalam tahanan.

Gimana di dalam tahanan?

Ya baik pak saya tidak ada masalah cuman pernah aja sakit perut.

Sekarang perutnya masih sakit? Tanya Pak Andi kembali.

Ya sedikit masih sakit.

Kalu gitu kamu istirahat aja dulu, jangan masuk sekolah sebelum perut kamu sembuh. Kata Pak Andi

Seperti inilah guru yang baik. Tidak hanya memperhatikan kemajuan pendidikan, tapi juga memperhatikan kesehatannya. Sikap Pak Andi seperti ini menjadi inspirasi bagi saya sekarang sehingga ketika melihat ada mahasiswa saya di Universitas Trilogi sakit, saya minta dia untuk pulang dan beristirahat,” paparnya.

Menjadi Tim Pengajar IPB

Seminggu setelah menyelesaikan pendidikan S1 nya, Asep Saepudin kemudian dipanggil  oleh Prof Andi Hakim Nasution yang saat itu telah menjabat sebagai Rektor IPB.

Kamu sudah lulus sekarang? tanya Pak Andi

Iya pak. Jawab Asep

Mau kerja dimna?

Dimanapun saya bekerja yang penting saya menjadi dosen.

Oh kamu pingin jadi dosen?

Iya pak.

Kenapa tidak di IPB saja? Pak Andi menawarkan.

Nilainya cukup gak pak?

Cukuplah...

Diterima gak pak?

Ya diterimalah kan saya rektornya. Jawab Pak Andi tegas.

“Sehari setelah pembicaraan dengan Pak Andi, saya mendapat surat resmi dari Pak Darwis Gani, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) tentang permintaan untuk melamar jadi dosen. Saat itu juga saya langsung menghadap Pak Darwis. Begitu ketemu dengan Pak Darwis, beliau langsung minta stafnya untuk mengetik transkrip S-1 saya,”kenangnya.

Mengagas Strategic Planing IPB 2020

Diilhami oleh pengalaman empiris selama berada di Guelph tentang rencana strategik universitas dan niat pengabdian untuk kemajuan IPB secara institusi, Ia kemudian mengusulkan untuk membuat strategic planing IPB 2020.

“Waktu itu saya menghadap Rektor IPB, Prof Soleh Solahudin dan mengatakan siap mengorbankan diri untuk tidak melakukan banyak riset asal kelak IPB menjadi institusi riset yang kuat. Sayapun kemudian menyodorkan ide membuat perencanaan strategik IPB menghadapi tahun 2020. Prof Soleh setuju dan meminta saya menjadi motor penggerak tim Renstra IPB. Akhirnya, saya bersama tim menghasilkan buku Renstra IPB 2020 yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Buku itu selesai tahun 1997 dan menjadi juru selamat untuk pendanaan IPB berbasis APBN.

Menjadi Rektor Universitas Trilogi

Asep Saepudin, Guru Besar Statistik IPB ini mendapatkan kesempatan menjadi rektor Universitas Trilogi.

 “Saya diminta Prof Haryono Suyono dan Dr Subiakto Tjakrwardaja yang masing-masing sebagai pembina dan ketua Yayasan Pembangunan Pendidikan Indonesia Jakarta (YPPIJ) untuk menjadi rektor Universitas Trilogi. Pelantikan dilakukan tanggal 4 Oktober 2013 di Auditorium Kampus. Dalam sambutan saya katakan, menolak tawaran membangun universitas bagi saya adalah tabu. Sejak sekolah dasar sampai lulus S-3 saya memang berkeinginan mengabdikan diri untuk universitas,” tuturnya. (Zul)

 


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 10 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 10 Januari 2017 00:00 WIB
Minggu, 8 Januari 2017 00:00 WIB