Himpunan Alumni IPB
Kamir R Brata, Penemu Lubang Biopori Peraih Kalpataru

Kamir Raziudin Brata, pria kelahiran 12 Desember 1948 ini berhasil mengembangkan teknologi sederhana yang murah dan mudah dilakukan oleh setiap orang, serta multi guna. Teknologi yang dikembangkannya ini mampu mengatasi banjir. Teknologi ini dikenal sebagai teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB). Dinamakan biopori karena memanfaatkan aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (bio) yang membentuk lubang-lubang terowongan kecil (pore) di dalam tanah. Peran organisme di dalam tanah itulah yang sering dilupakan dalam merancang konsep penanganan banjir. Misalkan pembuatan waduk, jika aliran air menuju waduk tersebut masih didominasi oleh aliran permukaan tanah, maka waduk tersebut akan mengalami pendangkalan yang disebabkan material erosi yang terbawa aliran permukaan tersebut.

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm atau kurang jika air tanah dangkal. Selanjutnya agar organisme tanah bisa bekerja membentuk biopori, lubang yang sudah dibuat tersebut diisi dengan sampah organik sebagai makanan organisme tanah. Pengisian sampah tersebut diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu padat agar tersedia ukup oksigen untuk mendukung organisme tanah pembentuk biopori. Ukuran diameter 10 cm merupaka ukuran yang sudah dipikirkan secara cermat oleh Kamir R. Brata. Jika kurang dari 10 cm maka akan sulit untuk memasukkan sampah ke dalam lubang tersebut. Ukuran 10 cm juga membuat tikus enggan masuk karena meskipun bisa masuk namun tidak bisa berbelok. Kedalaman 100 cm juga diperhitungkan agar tersedia cukup oksigen agar sampah yang dimasukkan segera diolah oleh organisme tanah sebelum mengalami pembusukan yang menghasilkan gas metan. Kedalaman yang kurang dari kedalaman air muka tanah tersebut juga dimaksudkan agar air yang masuk mengalami proses bioremediasi sebelum masuk ke dalam air tanah.

Lubang resapan biopori ini merupakan suatu teknologi yang multi guna. Beberapa manfaat dari teknologi sederhana ini yakni mampu mencegah genangan dan banjir, mencegah erosi dan longsor, meningkatkan cadangan air bersih, penyuburan tanah dan mengubah sampah organik menjadi kompos sehingga mengurangi emisi gas metan yang jauh lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan gas karbondioksida. Manfaat tersebut telah teruji secara ilmiah di lahan percobaan sejak tahun 1993, maupun secara empiris  di berbagai tempat yang sudah menerapkannya dengan benar.

Di sekitar rumah serta kantor Kamir R. Brata bisa dilihat lubang-lubang resapan biopori, ia mengatakan bahwa suatu teknologi sebelum dianjurkan kepada orang lain harus bisa dibuktikan secara ilmiah serta ia harus memberi contoh dengan tindakan nyata sebelum mengajak orang lain untuk membuatnya.

Kepedulian serta rasa tanggung jawab tersebut tumbuh dari panggilan hati dan akal budinya yang sudah sejak lama bergelut dalam disiplin ilmu tanah. Kecintannya akan ilmu tanah dimulai sejak kecil, dimana ia sebagai anak peteni telah berinteraksi dengan tanah sejak kecil. Saat anak-anak lain masih terlelap, putra pasangan Brata dan Rumsari ini sudah membantu ayahnya mencangkul di sawah sebelum berangkat ke sekolah.  Selain membantu mencangkul, ia juga mencari rumput bagi ternak kambing serta membantu mengurus adik-adiknya karena ia merupakan anak kedua dari 11 bersaudara. Kesibukan tersebut tak menghalanginya untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Saat SD ia sempat mengikuti sekolah umum dan madrasah selaigus. Masa SMP dan SMA harus dilalui dengan perjuangan menempuh jarak 11 km untuk mencapai sekolah, namun Ia tetap bersemangat menuntut ilmu.

Lulus dari SMA ia melanjutkan pendidikan di IPB untuk mendalami ilmu-ilmu dan teknologi pertanian pada tahun 1968. Ia menuturkan bahwa saat itulah mulai diberlakukan kurikulum sarjana 6 tahun. Untuk itu diadakan Mapram selama 2 minggu sebagai ajang pengenalan kampus dan teman-teman seangkatan. Kegiatan itu memberikan pengalaman yang merndalam baginya, ia menuturkan bahwa saat itu ia bisa mengenal hampir seluruh mahasiswa seangkatan. Lalu pada semester 6 ia mulai mendalami ilmu konservasi tanah dan air. Dari sinilah ia mulai menyadari bahwa pengolahan tanah untuk pertanian pun berpotensi merusak tanah, karena setiap pengolahan tanah pasti ada penekanan dan penggeseran tanah, sehingga menghalangi peresapan air ke dalam tanah.  Contoh termudah yaitu pada areal persawahan, tanah dilumpurkan agar air tidak mudah meresap ke dalam tanah. Penanaman di sawah tergenang tersebut mudah, namun efek jangka panjangnya justru merugikan. Pelumpuran akan merusak biopori yang dibuat oleh alam, akibatnya ketika air sudah jenuh akan langsung mengalir terbuang percuma serta bersama pupuk yang larut ikut terbawa aliran air permukaan tersebut, kemudian mencemari lingkungan tempat air tersebut terkumpul. Padahal petani sudah mengeluarkan biaya yang relatif banyak untuk membiayai pemupukan tersebut.  Ia menuturkan bahwa di negara maju proses pelumpuran ini hanya boleh dilakukan di dataran rendah, yang memang pergerakan airnya lambat.  Sementara di Indonesia, pegunungan yang seharusnya dijadikan tempat peresapan air justru dijadikan sawah.

Kecintaannya pada ilmu tanah membuat ia memilih untuk mengawali karir sebagai Penanggung-jawab Test Farm P4S-IPB pada tahun 1974 selepas ia menyelesaikan kuliah s1. Kemudian sejak tahun 1976 ia aktif mengajar di program studi Ilmu Tanah di IPB.   Untuk memperdalam ilmu tanah, ia pun mengambil s2 bidang studi Soil Physics di  The University of Western Australia pada tahun 1992. Sejak itulah ia mulai fokus melakukan penelitian tentang mulsa vertikal yang akirnya dikenal dengan nama lubang resapan biopori.  Beberapa penelitiannya terkait hal itu antara lain “Pemanfaatan Sisa Tanaman Sebagai Mulsa Vertikal (Vertical Mulch) dalam Usaha Konservasi Tanah dan Air pada Pertanian Lahan Kering di Latosol Darmaga” (1993), “Efektivitas Mulsa Vertikal (Vertical Mulch) dalam Pengendalian Aliran Permukaan, Erosi, dan Kehilangan Unsur Hara Pada Pertanian Lahan Kering di Latosol Darmaga” (1994), dan “Penggunaan Cacing Tanah Untuk Peningkatan Efektivitas Mulsa Vertikal Sebagai Tindakan Konservasi Tanah dan Air Terpadu pada Pertanian Lahan Kering di Latosol Darmaga” (1995).

Meskipun penelitian tersebut telah lama dilakukan, hal itu baru dikenal secara luas semenjak peristiwa Banjir Jakarta 2007 yang merendam hampir 60% wilayah Jakarta. Saat itulah media mulai ramai mencari berbagai solusi untuk mengatasi banjir, salah satunya bertanya ke IPB. Lalu Kamir R. Brata menawarkan teknologi mulsa vertikal tersebut, dan kalangan media sangat terkesan saat melihat daya resap air di tanah kebun percobaan Cikabayan, tempat penelitian teknologi mulsa vertikal Kamir Raziudin Batra. Kalangan media kemudian mengusulkan agar teknologi mulsa vertikal tersebut diubah menjadi biopori agar lebih mudah diingat dan diucapkan. Kamir R. Brata menyetujui dengan catatan agar liputan media tidak hanya menitikberatkan pada fungsi untuk resapan air saja,  jangan sampai melupakan tentang penekanan pada peran makhluk hidup di dalam tanah dalam teknologi tersebut. Hal ini terbukti pada kesalahpahaman masyarakat luas saat ini tekait dengan biopori, misalnya lubang resapan justru dilapisi paralon sehingga biopori tidak bisa terbentuk, lubang dibuat terlalu besar, ataupun lubang terlalu dalam.

Ditengah banyaknya kesalahpahaman tersebut, Kamir R. Brata tetap gigih menyosialisasikan konsep dan penerapan LRB yang benar melalui berbagai pelatihan, seminar, dan publikasi tulisan ilmiah. Ia menginginkan agar setiap orang bertanggung jawab atas lingkungannya, yang juga dihuni oleh makhluk-makhluk lain yang tidak dikaruniai akal sebagaimana manusia. Minimal setiap orang bertanggung jawab melakukan perbaikan di lahan yang dikuasai masing-masing, sekecil apapun. Hal itu telah membuat Walikota Bogor memberinya penghargaan sebagai “Inovator Teknologi Lubang Resapan Biopori” pada tahun 2007. Gubernur DKI juga menyematkan penghargaan sebagai “Motivator Penerapan Teknik Lubang Resapan Biopori di Provinsi DKI Jakarta” kepadanya pada tahun 2008. Kemudian pada tahun 2009 Presiden RI mengganjarnya dengan penghargaan “Satyalancana Karya Satya 30 Tahun”. Lalu pada tahun 2010 ia juga menerima penghargaan “Inspirasi Indonesia” dari Direktur Utama SCTV pada tahun 2010 serta memperoleh penghargaan kalpataru tahun 2015.

 

 

*Diubah dari asli: hubunganalumni.ipb.ac.id/kamir-r-brata-penemu-lubang-resapan-biopori/


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 22 September 2017 00:00 WIB
IPB
Sabtu, 16 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 8 September 2017 00:00 WIB
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB